MENYONGSONG PESTA DEMOKRASI 2014
OLEH:
TOBA MUARA ARITONANG
Melihat gejolak politik hari ini
yang kian terasa menuju tahun politik 2014 ada berbagai isu hangat mengenai partai
maupun tokoh politik. Tahun 2013 merupakan ajang bagi para partai politik untuk
menarik perhatian masyarakat berbagai kebijakan akhirnya sarat untuk mencari
dukungan dan membahagiakan konstituen masing-masing partai maupun para tokoh
politik yang akan bertarung dipemilu 2014.Mulai dari iklan yang menggambarkan
pencitraan diri yang dekat dengan masyarakat, politisi yang lebih sering turun
kepada masyarakat, hingga menggunakan momen keagamaan untuk menarik simpati
masyarakat. Ini menggambarkan para politisi dinegara ini masih banyak yang
menerapkan politik pragmatis yang hanya untuk kepentingan meraih kekuasaan,
hanya sebagian kecil dari politisi kita yang menerapkan politik sebagai
pengabdian kepada masyarakat.
Pemilu merupakan proses demokrasi
dimana proses transisi kekuasaan yang ditentukan oleh rakyat. Sudah seharusnya
rakyat harus dicerdaskan dengan pendidikan politik yang menjadi tugas Partai
politik, akan tetapi tugas ini tidak dilaksanakan. Pemilu merupakan masa bagi
rakyat untuk menentukan pilihan dan merupakan ajang penilaian apakah partai
politik atau pun kader yang telah diberikan kepercayaan 5 tahun silam
melaksanakan amanat rakyat dengan baik atau hanya menggunakan kekuasaan untuk
kepentingan individu maupun kelompok.
Disinilah tingkat urgensi pendidikan
politik sehingga masyarakat tidak terjebak pada retorika politisi ketika
berkampanye, ataupun memilih calon pejabat publik melihat pada latar belakang calon
yang merupakan satu suku atau beragama tanpa melihat kapasitas seseorang.
Pemilih yang cerdas akan melahirkan
pemimpin yang berintegritas sekaligus mumpuni dalam menjalankan amanat rakyat.
Disinilah letak permasalahannya jika melihat proses pemilu dikatakan berhasil
bukan hanya jika mekanismenya berjalan sesuai aturan akan tetapi lebih penting
adalah pesta demokrasi tersebut juga menghasilkan pemimpin yang berkualitas
juga. Sehingga harga yang harus kita bayar dalam suatu pelaksanaan pemilu
sesuai dengan kualitas pemimpin yang terpilih, bukan malah sebaliknya anggaran
besar untuk pemilu akan tetapi kualitas pemimpin yang terpilih yang rendah.
Jangan sampai negara ini salah surus
karena kesalahan dalam memilih calon pejabat publik. Jika menelisik pada
nama-nama calon anggota legislatif yang didaftarkan partai politik kita bisa
melihat nama-nama lama yang bisa dikatakan calon petahanan yang seharusnya dinilai
masyarakat secara objektif apakah benar-benar melaksanakan amanat rakyat atau
tidak, sehingga ada seleksi objektif dalam menentukan pilihan terhadap calon
pejabat publik. Dan juga masyarakat jangan sampai terjebak pada kepentingan
pragmatis parpol dimana untuk memenangkan pemilu 2014 akan mendaftarkan calon
anggota legislatif lebih mengutamakan mereka-mereka yang punya duit, terkenal,
dan memiliki ketokohan dimasyarakat sehingga bisa menjadi pengumpul suara atau
sering kita sebut sebagai “voot getter”
dipemilu 2014, bukan melalui proses pengkaderan partai. Dalam arti, siapa pun
kader yang baik, yang menganut prinsip bahwa berpolitik adalah dalam rangka
bernegara, dan bernegara adalah berkonstitusi berhak mendapatkan tempat dan
dukungan penuh dari partai untuk maju dalam pemilu 2014 akan tetapi justru
sebaliknya mereka yang tidak melalui pengkaderan yang lebih diutamakan karena
kepentingan kemenangan partai.
Sebagai mahasiswa menjadi hal yang
penting untuk mencerdaskan masyarakat pemilih dalam pemilu 2014. Ada berbagai
cara yang bisa kita tempuh dalam melakukan pendidikan politik dari hal yang paling
kecil menurut saya adalah mulai ikut dalam forum-forum kemasyarakatan yang ada
di RT atau RW tempat kita tinggal misalnya forum diskusi antar warga. Proses
diskusi bersama dalam rangka mencerahkan pemahaman masyarakat dalam menentukan
pilihan. Dalam lingkup yang lebih besar mungkin kita bisa melakukan sarasehan
ditingkat kecamatan atau kelurahan dalam rangka pendidikan politik. Mungkin
tidak banyak hal besar yang bisa kita lakukan akan tetapi dari langkah kecil
dan dari tangan-tangan kecil kita suatu perubahan besar dimulai.Pemilu bukan
sebagai tontonan tapi sebagai sebuah pesta demokrasi yang menentukan masa depan
bangsa untuk 5 tahun yang akan datang. Jadi ayo bergerak dan berbuat untuk
Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar