Senin, 13 Agustus 2012

Menelisik Makna Dari Realitas Kehidupan





 
Negara kita hari ini dibangun atas paradoks-paradoks yang terkadang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Negara dengan sumber daya alam berlimpah namun keadaan masyarakatnya mengenaskan: terpuruk dalam kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, dan masih banyak lagi yang tidak bisa diungkapkan. Tujuan didirikannya negara ini jelas tercantum dalam konstitusi negara kita, UUD NRI 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mari kita urai apa tujuan mulia ini sudah dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini?
Mari kita mulai mengurai frase ‘memajukan kesejahteraan umum’ dengan melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2012 yang mencatat sekitar 29,13 juta orang Indonesia, atau sekitar 11,96% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia, masih berada di bawah garis kemiskinan. Itu baru fakta yang pertama. Kemudian jika dibandingkan antara frase ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ dengan realitas yang terjadi maka kita akan melihat fakta bahwa pendidikan kita hari ini lebih ditekankan kepada penguasaan teori namun tidak menekankan pada pendidikan watak dan karakter. Dapat diperkirakan bahwa hasil dari sistem pendidikan kita saat ini adalah manusia-manusia yang siap bekerja saja namun tidak memiliki karakter. Jika demikian, apa bedanya manusia dengan robot?
Lalu bagaimana realitas bernegara kita jika dibandingkan dengan tujuan yang ketiga, yaitu melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan? Mari lihat fakta bahwa masih terdapat kaum separatis dan daerah yang bergolak meminta pemisahan diri dari NKRI, misalnya Republik Maluku Selatan (RMS) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Fakta ini sangat bertolak belakang dengan tujuan melaksanakan ketertiban dunia. Jangankan untuk menciptakan ketertiban dunia, ketertiban di negeri ini saja belum tercapai. Sedangkan tujuan perdamaian abadi yang dicita-citakan dalam konstitusi sangat bertentangan dengan fakta dari laporan SETARA Institute yang menyebutkan bahwa tahun 2011 lalu terjadi 244 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan 299 bentuk tindakan kekerasan.
Sedangkan cita-cita yang terakhir, keadilan sosial, masih jauh panggang dari api. Dengan mata telanjang kita melihat begitu banyak mobil mewah yang lewat hilir-mudik di jalanan, namun di waktu yang sama begitu banyak gelandangan di jalanan yang sama berjuang untuk sesuap nasi. Betapa jurang perbedaan antara kaya dengan miskin sangat lebar. Jurang pemisah tersebut mengancam integrasi sosial antara masyarakat, bahkan menimbulkan disintegrasi bangsa bila tidak segera diatasi.
Dalam tulisan ini saya sengaja mengangkat fakta-fakta yang mungkin sudah sering kita baca atau dengar di media massa. Hal ini penting karena saat ini kita berada di dunia orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri (egoisme) tanpa peduli sesama. Saya ingin menyadarkan kaum muda bangsa ini. Mari lihat sekitar kita dan berbuat hal kecil untuk perubahan yang lebih besar. Dari tangan-tangan kecil yang mau berbuat hal kecil akan dimulai pergerakan sosial yang lebih besar lagi. Karena perubahan tidak dimulai dari kata-kata atau jargon tetapi kemauan untuk bertindak. Kenyataan membentuk kesadaran, dan kesadaran harus diikuti tindakan untuk mengubah keadaan.
Saya mengajak teman-teman untuk berefleksi dengan pertanyaan: apa yang sudah kita perbuat sebagai putera-puteri bagi bangsa ini? Harus ada upaya yg lebih lagi dari kita anak-anak muda bangsa ini untuk belajar, berjuang dan mengimplementasikan semua ilmu yang telah kita pelajari. Terkadang sebagai golongan muda kita lupa bahwa perjalanan bangsa ini ke depan akan ditentukan oleh anak-anak muda yg sekarang ini menempuh jalur pendidikan, baik di tingkatan pendidikan formal maupun informal. Namun sangat paradoks di kalangan kaum intelektual sendiri tidak ada kesamaan pandangan mengenai persoalan bangsa ini. Kita sibuk dengan berbagai kepentingan individu dan kelompok yang membuat kita terpecah dalam mencapai tujuan bersama. Mari meretas langkah kecil di tengah tantangan yang besar dan yakinlah Tuhan beserta kita. Salam

ditulis oleh: Toba Muara Aritonang (Kabid OR & PKK GMKI Cab.Malang Masa Bakti 2011-2012)









2 komentar:

  1. Ka Toba dan kawan2, saya memberikan apresiasi yang tinggi atas hadirnya Blog ini. Saya juga menaruh hormat buat kawan-kawan yang sudah mau menuangkan gagagasannya lewat blog ini. Semoga lewat blog ini eksitensi kita sebagai makluk berpikir menemukan wadahnya yang tepat.


    ....Salam UOUS....

    BalasHapus
  2. kiranya blog ini jadi sarana penulisan bagi teman-teman anggota GMKI MALANG

    BalasHapus

Text

GMKI MALANG

GMKI MALANG
Ut Omnes Unum Sint