Urbanisasi:
Menjadi
Manusia Modern
atau
Sekadar
Bertahan Hidup
Oleh : Nova Yolanda Putri Sipahutar
Padat
dan ramai adalah sifat yang sangat dekat dengan kota, apalagi kota besar. Sifat
itu tentu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada sejarah yang menyebabkannya
terjadi. Sebuah fenomena yang pada awalnya terjadi di salah satu negara belahan
utara dunia ini, kemudian menjalar menjadi karakteristik kota-kota besar di
dunia. Revolusi Industri di Inggris menjadi titik awal padat dan ramainya kota.
Pada saat revolusi industri banyak masyarakat miskin di desa pindah ke kota.
Tempat munculnya pertama kali di Britania, dimana ada industri besar-besaran
pada abad 18 hingga abad 19. Migrasi yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan ke
kota kemudian dikenal dengan istilah urbanisasi.
Fenomena urbanisasi ini kemudian
dikonsepkan sebagai salah satu bentuk modernisasi oleh para pakar pembangunan. Modernisasi menurut Chaudary (2013)
ada dalam 4 bentuk. Yaitu modernisasi dalam politik, modernisasi budaya,
modernisasi ekonomi, dan modernisasi sosial. Urbanisasi masuk dalam modernisasi
sosial yang dipicu oleh modernisasi ekonomi. Peet juga (2009) mengatakan bahwa
secara sosio-spatial modernisasi itu adalah urbanisasi. Senada dengan pendapat
diatas, Cowgill dalam Rhoads mengatakan bahwa karakteristik modernisasi adalah
urbanisasi, industrialisasi, dan meningkatnya kebutuhan pada pendidikan.
menurut Ronald dalam Ibrahim (2009), modernisasi adalah perubahan kultur secara
masif dan kegigihan budaya yang khas.
Deskripsi tentang
kepadatan dan keramaian kota di Indonesia adalah sekitar 50% penduduk (114
juta) tinggal di kawasan perkotaan, dengan tingkat pertumbuhan yang cukup signifikan
yaitu 5,89% per tahun, sementara tingkat pertumbuhan nasional rata‐rata hanya 1,17% per tahun.
Pada tahun 2025, diperkirakan jumlah penduduk perkotaan akan mencapai 152 juta
(65%) dan sisanya tersebar di kawasan perdesaan yang mencakup 82,3% luas wilayah.
(Dokumen Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 2010-2005).
Terkait jumlah penduduk
miskin, hasil survey BPS pada tahun 2011 dan 2012 tentang Jumlah Penduduk
Miskin di Indonesia menunjukkan bahwa angka kemiskinan di pedesaan lebih tinggi
daripada angka kemiskinan di kota. Di perkotaan, persentasenya mencakup 8,78
persen atau sekitar 10,65 juta jiwa. Sedangkan di pedesaan hampir 20 juta jiwa
merupakan penduduk miskin.
Grafik 1
Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Perkotaan
dan Pedesaan (dalam juta jiwa)
Keadaan yang demikian
juga tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada rantai-rantai yang terjalin membuat kemiskinan
di desa lebih tinggi dibandingkan kota. Gaya hidup masyarakat yang subsisten
dimana memanfaatkan alam (hanya) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kecenderungannya bahwa masyarakat desa tidak melakukan tabungan dan sangat
minimnya investasi di desa. Sedangkan menurut Smith bahwa pembangunan yang baik
itu dimulai dari sikap yang suka menabung. Dimulai dari tabungan kemudian
investasi, keduanya akan melahirkan akumulasi modal. Dari akumulasi modal ini
akan terjadi laju investasi yang tinggi dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi
pun baik. Untuk dapat mengakumulasi modal maka masyarakat harus memliki
perilaku yang suka menabung.Timbulnya peningkatan kinerja pada satu sektor
akan meningkatkan daya tarik pada bagi pemupukan modal, mendorong kemajuan
teknologi, meningkatkan spesialisasi, dan memperluas pasar. Hal ini akan
mendorong pertumbuhan ekonomi semakin pesat.
Tingginya
laju investasi sejauh ini jauh lebih banyak didapati di daerah perkotaan.Sedangkan
di pedesaan jumlah investasi relatif kecil karena stigma cara berpikirnya masih
irasional, di desa tidak tersedia
faktor-faktor lingkungan seperti yang diungkapkan oleh Hozelitz. Desa tidak mempunyai
infrastruktur telekomunikasi, fasilitas pelabuhan, pergudangan. Asumsinya
adalah orang-orang di desa tidak ada yang “pintar” karena mereka tidak
terdidik. Sementara para pemilik modal ingin menginvestasikan modal yang
dimilikinya. Maka kawasan yang cocok untuk mengembangkan usaha mereka adalah di
kota. Karena deskripsi kota adalah kebalikan dari deskripsi desa diatas.
Pemilik Gedung-gedung pencakar langit, pabrik-pabrik, hotel dan restaurant atau
lebih dikenal dengan istilah industrialisasi yang ada di kota tentu saja
membutuhkan banyak tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi usahanya. Hal
ini tentu menjadi daya tarik bagi masyarakat desa yang yang tidak memiliki
pekerjaan atau bekerja di desa dengan upah yang sangat kecil. Masyarakat desa
akan bermigrasi ke kota untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Pentingnya tabungan dan
investasi juga diakui oleh Rostow yang dituangkan dalam lima tahap
pembangunan.. Rostow mengatakan bahwa pembangunan bergerak dalam sebuah garis
lurus: dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap
pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow mulai dari masyarakat tradisional yang
hanya menggunakan produksi untuk konsumsi tidak ada yang tersisa untuk
investasi. Kemudian menuju tahap pra kondisi untuk lepas landas dimana ada
campur tangan luar untuk mengubah sabuah negara (terbelakang) untuk mulai
memikirkan tabungan dan investasi. Tahap selanjutnya adalah lepas landas,
negara mengalami peningkatan tabungan dan investasi dari 5% menjadi 10% dan
industri baru juga berkembang dengan sangat pesat. Tahap selanjutnya lebih
menekankan pada peningkatan tabungan dan investasi dari 10% sampai 20%. Tahap
terakhir adalah jaman konsumsi massal yang tinggi. (Budiman, 1996:25-27)
Investasi yang tinggi di kota berdampak pada
tingginya lapangan pekerjaan. Ini yang menjadi daya tarik kota sehingga terjadi
urbanisasi. Kurang tepat rasanya jika para pakar pembangunan mengatakan bahwa urbanisasi
terjadi karena masyarakat desa ingin menjadi manusia modern setidaknya secara
budaya. Tetapi agar dapat melanjutkan hidup. Karena penghasilan yang didapatkan
di desa sangat kecil, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan yang layak. Banyak
migran yang merencanakan pulang ke desa setalah mendapatkan uang yang cukup.
Tidak memilih untuk melanjutkan hidup di kota. Fenomena yang lain adalah migran
yang melakukan ubanisasi hanya satu orang saja, sedangkan keluarganya tetap
tinggal di desa.
Alasan lain terjadinya migrasi dari desa ke kota
yang sering disebut adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, hiburan yang
variatif di kota, dan sistem informasi yang maju. Alasan inilah yang lebih
dekat dengan urbanisasi dalam pengertian “modernisasi”, terutama proses menjadi
manusia modern. Para migran yang sudah lebih maju memikirkan pendidikan dan
kesehatan apalagi sampai pada kesadaran politiknya, adalah mereka yang sudah
mampu mencukupi kebutuhan dasar. Terutama kebutuhan pangan.
Referensi
Budiman, Arief. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Chaudary,
Asha. 2012. Modernization: Impact,
Theory, Advantages and Disadvantages. International Journal for Research in
education. . Vol. 2,pp 34-38
Dokumen Kebijakan dan
Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 2010-2005
Ibrahim,
Shakeela. 2009. Cognition and Impact of
Modernization in Changing Normative Structure of Family System (A Case
Study). International Journal
of Business and Social Science. Vol. 2 No. 14. Pp 271-277
Kuncoro, Mudrjarad. 1997. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan
Kebijakan. Yogyakarta: AMP YKPN
Peet, Richard dan Elaine Hartwick. 2009.
Theories Of Development. New York: The Guilford Press
www.bps.go.id

