Selasa, 03 September 2013


Urbanisasi:
Menjadi Manusia Modern
atau
Sekadar Bertahan Hidup
Oleh : Nova Yolanda Putri Sipahutar

            Padat dan ramai adalah sifat yang sangat dekat dengan kota, apalagi kota besar. Sifat itu tentu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada sejarah yang menyebabkannya terjadi. Sebuah fenomena yang pada awalnya terjadi di salah satu negara belahan utara dunia ini, kemudian menjalar menjadi karakteristik kota-kota besar di dunia. Revolusi Industri di Inggris menjadi titik awal padat dan ramainya kota. Pada saat revolusi industri banyak masyarakat miskin di desa pindah ke kota. Tempat munculnya pertama kali di Britania, dimana ada industri besar-besaran pada abad 18 hingga abad 19. Migrasi yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan ke kota kemudian dikenal dengan istilah urbanisasi.
            Fenomena urbanisasi ini kemudian dikonsepkan sebagai salah satu bentuk modernisasi oleh para pakar pembangunan. Modernisasi menurut Chaudary (2013) ada dalam 4 bentuk. Yaitu modernisasi dalam politik, modernisasi budaya, modernisasi ekonomi, dan modernisasi sosial. Urbanisasi masuk dalam modernisasi sosial yang dipicu oleh modernisasi ekonomi. Peet juga (2009) mengatakan bahwa secara sosio-spatial modernisasi itu adalah urbanisasi. Senada dengan pendapat diatas, Cowgill dalam Rhoads mengatakan bahwa karakteristik modernisasi adalah urbanisasi, industrialisasi, dan meningkatnya kebutuhan pada pendidikan. menurut Ronald dalam Ibrahim (2009), modernisasi adalah perubahan kultur secara masif dan kegigihan budaya yang khas.
Deskripsi tentang kepadatan dan keramaian kota di Indonesia adalah sekitar 50% penduduk (114 juta) tinggal di kawasan perkotaan, dengan  tingkat pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu 5,89% per tahun, sementara tingkat pertumbuhan nasional ratarata hanya 1,17% per tahun. Pada tahun 2025, diperkirakan jumlah penduduk perkotaan akan mencapai 152 juta (65%) dan sisanya tersebar di kawasan perdesaan yang mencakup 82,3% luas wilayah. (Dokumen Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 2010-2005).
Terkait jumlah penduduk miskin, hasil survey BPS pada tahun 2011 dan 2012 tentang Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia menunjukkan bahwa angka kemiskinan di pedesaan lebih tinggi daripada angka kemiskinan di kota. Di perkotaan, persentasenya mencakup 8,78 persen atau sekitar 10,65 juta jiwa. Sedangkan di pedesaan hampir 20 juta jiwa merupakan penduduk miskin.
Grafik 1
Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Perkotaan dan Pedesaan (dalam juta jiwa) 
 

Keadaan yang demikian juga tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada rantai-rantai yang terjalin membuat kemiskinan di desa lebih tinggi dibandingkan kota. Gaya hidup masyarakat yang subsisten dimana memanfaatkan alam (hanya) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kecenderungannya bahwa masyarakat desa tidak melakukan tabungan dan sangat minimnya investasi di desa. Sedangkan menurut Smith bahwa pembangunan yang baik itu dimulai dari sikap yang suka menabung. Dimulai dari tabungan kemudian investasi, keduanya akan melahirkan akumulasi modal. Dari akumulasi modal ini akan terjadi laju investasi yang tinggi dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi pun baik. Untuk dapat mengakumulasi modal maka masyarakat harus memliki perilaku yang suka menabung.Timbulnya peningkatan kinerja pada satu sektor akan meningkatkan daya tarik pada bagi pemupukan modal, mendorong kemajuan teknologi, meningkatkan spesialisasi, dan memperluas pasar. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin pesat. 
Tingginya laju investasi sejauh ini jauh lebih banyak didapati di daerah perkotaan.Sedangkan di pedesaan jumlah investasi relatif kecil karena stigma cara berpikirnya masih irasional,  di desa tidak tersedia faktor-faktor lingkungan seperti yang diungkapkan oleh Hozelitz. Desa tidak mempunyai infrastruktur telekomunikasi, fasilitas pelabuhan, pergudangan. Asumsinya adalah orang-orang di desa tidak ada yang “pintar” karena mereka tidak terdidik. Sementara para pemilik modal ingin menginvestasikan modal yang dimilikinya. Maka kawasan yang cocok untuk mengembangkan usaha mereka adalah di kota. Karena deskripsi kota adalah kebalikan dari deskripsi desa diatas. Pemilik Gedung-gedung pencakar langit, pabrik-pabrik, hotel dan restaurant atau lebih dikenal dengan istilah industrialisasi yang ada di kota tentu saja membutuhkan banyak tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi usahanya. Hal ini tentu menjadi daya tarik bagi masyarakat desa yang yang tidak memiliki pekerjaan atau bekerja di desa dengan upah yang sangat kecil. Masyarakat desa akan bermigrasi ke kota untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Pentingnya tabungan dan investasi juga diakui oleh Rostow yang dituangkan dalam lima tahap pembangunan.. Rostow mengatakan bahwa pembangunan bergerak dalam sebuah garis lurus: dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Lima tahap pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow mulai dari masyarakat tradisional yang hanya menggunakan produksi untuk konsumsi tidak ada yang tersisa untuk investasi. Kemudian menuju tahap pra kondisi untuk lepas landas dimana ada campur tangan luar untuk mengubah sabuah negara (terbelakang) untuk mulai memikirkan tabungan dan investasi. Tahap selanjutnya adalah lepas landas, negara mengalami peningkatan tabungan dan investasi dari 5% menjadi 10% dan industri baru juga berkembang dengan sangat pesat. Tahap selanjutnya lebih menekankan pada peningkatan tabungan dan investasi dari 10% sampai 20%. Tahap terakhir adalah jaman konsumsi massal yang tinggi. (Budiman, 1996:25-27)
Investasi yang tinggi di kota berdampak pada tingginya lapangan pekerjaan. Ini yang menjadi daya tarik kota sehingga terjadi urbanisasi. Kurang tepat rasanya jika para pakar pembangunan mengatakan bahwa urbanisasi terjadi karena masyarakat desa ingin menjadi manusia modern setidaknya secara budaya. Tetapi agar dapat melanjutkan hidup. Karena penghasilan yang didapatkan di desa sangat kecil, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan yang layak. Banyak migran yang merencanakan pulang ke desa setalah mendapatkan uang yang cukup. Tidak memilih untuk melanjutkan hidup di kota. Fenomena yang lain adalah migran yang melakukan ubanisasi hanya satu orang saja, sedangkan keluarganya tetap tinggal di desa.
Alasan lain terjadinya migrasi dari desa ke kota yang sering disebut adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, hiburan yang variatif di kota, dan sistem informasi yang maju. Alasan inilah yang lebih dekat dengan urbanisasi dalam pengertian “modernisasi”, terutama proses menjadi manusia modern. Para migran yang sudah lebih maju memikirkan pendidikan dan kesehatan apalagi sampai pada kesadaran politiknya, adalah mereka yang sudah mampu mencukupi kebutuhan dasar. Terutama kebutuhan pangan.

Referensi

Budiman, Arief. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Chaudary, Asha. 2012. Modernization: Impact, Theory, Advantages and Disadvantages. International Journal for Research in education. . Vol. 2,pp 34-38
Dokumen Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 2010-2005
Ibrahim, Shakeela. 2009. Cognition and Impact of Modernization in Changing Normative Structure of Family System (A Case Study).  International Journal of Business and Social Science. Vol. 2 No. 14. Pp 271-277

Kuncoro, Mudrjarad. 1997. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta: AMP YKPN
Peet, Richard dan Elaine Hartwick. 2009. Theories Of Development. New York: The Guilford Press
www.bps.go.id
 





MENYONGSONG PESTA DEMOKRASI 2014

OLEH: TOBA MUARA ARITONANG 

            Melihat gejolak politik hari ini yang kian terasa menuju tahun politik 2014 ada berbagai isu hangat mengenai partai maupun tokoh politik. Tahun 2013 merupakan ajang bagi para partai politik untuk menarik perhatian masyarakat berbagai kebijakan akhirnya sarat untuk mencari dukungan dan membahagiakan konstituen masing-masing partai maupun para tokoh politik yang akan bertarung dipemilu 2014.Mulai dari iklan yang menggambarkan pencitraan diri yang dekat dengan masyarakat, politisi yang lebih sering turun kepada masyarakat, hingga menggunakan momen keagamaan untuk menarik simpati masyarakat. Ini menggambarkan para politisi dinegara ini masih banyak yang menerapkan politik pragmatis yang hanya untuk kepentingan meraih kekuasaan, hanya sebagian kecil dari politisi kita yang menerapkan politik sebagai pengabdian kepada masyarakat.
            Pemilu merupakan proses demokrasi dimana proses transisi kekuasaan yang ditentukan oleh rakyat. Sudah seharusnya rakyat harus dicerdaskan dengan pendidikan politik yang menjadi tugas Partai politik, akan tetapi tugas ini tidak dilaksanakan. Pemilu merupakan masa bagi rakyat untuk menentukan pilihan dan merupakan ajang penilaian apakah partai politik atau pun kader yang telah diberikan kepercayaan 5 tahun silam melaksanakan amanat rakyat dengan baik atau hanya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan individu maupun  kelompok. Disinilah tingkat urgensi pendidikan  politik sehingga masyarakat tidak terjebak pada retorika politisi ketika berkampanye, ataupun memilih calon pejabat publik melihat pada latar belakang calon yang merupakan satu suku atau beragama tanpa melihat kapasitas seseorang.
            Pemilih yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang berintegritas sekaligus mumpuni dalam menjalankan amanat rakyat. Disinilah letak permasalahannya jika melihat proses pemilu dikatakan berhasil bukan hanya jika mekanismenya berjalan sesuai aturan akan tetapi lebih penting adalah pesta demokrasi tersebut juga menghasilkan pemimpin yang berkualitas juga. Sehingga harga yang harus kita bayar dalam suatu pelaksanaan pemilu sesuai dengan kualitas pemimpin yang terpilih, bukan malah sebaliknya anggaran besar untuk pemilu akan tetapi kualitas pemimpin yang terpilih yang rendah.
            Jangan sampai negara ini salah surus karena kesalahan dalam memilih calon pejabat publik. Jika menelisik pada nama-nama calon anggota legislatif yang didaftarkan partai politik kita bisa melihat nama-nama lama yang bisa dikatakan calon petahanan yang seharusnya dinilai masyarakat secara objektif apakah benar-benar melaksanakan amanat rakyat atau tidak, sehingga ada seleksi objektif dalam menentukan pilihan terhadap calon pejabat publik. Dan juga masyarakat jangan sampai terjebak pada kepentingan pragmatis parpol dimana untuk memenangkan pemilu 2014 akan mendaftarkan calon anggota legislatif lebih mengutamakan mereka-mereka yang punya duit, terkenal, dan memiliki ketokohan dimasyarakat sehingga bisa menjadi pengumpul suara atau sering kita sebut sebagai “voot getter” dipemilu 2014, bukan melalui proses pengkaderan partai. Dalam arti, siapa pun kader yang baik, yang menganut prinsip bahwa berpolitik adalah dalam rangka bernegara, dan bernegara adalah berkonstitusi berhak mendapatkan tempat dan dukungan penuh dari partai untuk maju dalam pemilu 2014 akan tetapi justru sebaliknya mereka yang tidak melalui pengkaderan yang lebih diutamakan karena kepentingan kemenangan partai.
            Sebagai mahasiswa menjadi hal yang penting untuk mencerdaskan masyarakat pemilih dalam pemilu 2014. Ada berbagai cara yang bisa kita tempuh dalam melakukan pendidikan politik dari hal yang paling kecil menurut saya adalah mulai ikut dalam forum-forum kemasyarakatan yang ada di RT atau RW tempat kita tinggal misalnya forum diskusi antar warga. Proses diskusi bersama dalam rangka mencerahkan pemahaman masyarakat dalam menentukan pilihan. Dalam lingkup yang lebih besar mungkin kita bisa melakukan sarasehan ditingkat kecamatan atau kelurahan dalam rangka pendidikan politik. Mungkin tidak banyak hal besar yang bisa kita lakukan akan tetapi dari langkah kecil dan dari tangan-tangan kecil kita suatu perubahan besar dimulai.Pemilu bukan sebagai tontonan tapi sebagai sebuah pesta demokrasi yang menentukan masa depan bangsa untuk 5 tahun yang akan datang. Jadi ayo bergerak dan berbuat untuk Indonesia yang lebih baik.

Text

GMKI MALANG

GMKI MALANG
Ut Omnes Unum Sint