Jumat, 24 Agustus 2012

Refleksi Kecil 6 Tahun Perlawanan Korban Lumpur Lapindo


Mengapa Kita Tidak Ikut Jalan Kaki Porong-Jakarta?
oleh Rere Christanto pada 18 Agustus 2012 pukul 19:01

25 Juli 2012 menjadi hari yang penuh kejutan bagi sebagian besar korban lumpur Lapindo. Pada sebuah siaran langsung yang dipancarkan dari media televisi milik keluarga Bakrie, mereka menghadirkan seorang korban Lumpur Lapindo yang sejak lebih dari sebulan sebelumnya telah menghiasi layar pemberitaan media dengan aksi jalan kakinya dari Sidoarjo menuju Jakarta. Tapi alih-alih mengungkapkan bagaimana susahnya dia selama lebih dari 6 tahun kehidupannya dihancurkan oleh lumpur panas, sebagaimana diumbarnya ketika pertama kali meniatkan langkahnya berjalan menuju ibu kota, Hari Suwandi sang korban lumpur menangis sesenggukan dan meminta maaf kepada keluarga Bakrie atas ulahnya menista nama baik mereka. Tidak kurang lagi ia menyatakan keyakinannya bahwa keluarga Bakrie akan sanggup menyelesaikan penggantian kerugian yang sampai sekarang masih menjadi tanggungan yang belum juga terselesaikan.

Minggu, 19 Agustus 2012

Komersialisasi Pendidikan sebagai Proses Globalisasi


Oleh: Julius Eduardo Luther Foeh (Kabid Akspel GMKI Cabang Malang Masa Bakti 2011-2012)
Pendidikan merupakan hal mendasar yang harus diperoleh oleh semua warga negara. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa melihat status sosial warga negara tersebut. Hal ini diatur dalam konstitusi Negara Republik Indonesia, yaitu dalam UUD NRI 1945 pasal 31 ayat 1. Pendidikan diperlukan untuk memajukan suatu negara. Suksesnya suatu proses pendidikan mencerminkan suatu peradaban dalam negara itu sendiri. Salah satu aspek yang mendukung suksesnya suatu proses pendidikan ialah sarana dan prasananya. Dalam kenyataannya, tak seidealis yang sudah dituliskan dalam undang-undang. Sarana dan prasarana sebagai penunjang dijadikan alasan untuk komersialisasi pendidikan dan hal tersebutlah yang menjadi salah satu penyebabnya.

Jumat, 17 Agustus 2012

Hukum, Sibernetika dan Revolusi Kebudayaan


Norbert Wiener di tahun 1947 memperkenalkan istilah sibernetika. Sibernetika merujuk pada hubungan antar sub sistem dalam menyalurkan informasi. Konsep yang sempat dicibir namun menjadi cikal bakal internet saat ini.
Talcott Parsons kemudian mengembangkan konsep sibernetika tersebut dalam konteks sosiologi. Parsons menempatkan sub sistem masyarakat ke dalam sub sistem budaya, sosial, politik, dan ekonomi. Keempat sub sistem tersebut saling terjalin dimana ekonomi dan politik memiliki energi paling besar, sedangkan budaya dan sosial yang memiliki tingkat informasi paling tinggi berfungsi mengendalikan ekonomi dan politik.

Indonesia Riwayatmu Kini......(Sebuah Perenungan)



Kemarin adalah sejarah pada hari ini, hari ini adalah sejarah untuk esok hari. Dan sejenak aku berpikir, apa sejarah yang akan ditorehkan oleh generasiku saat ini? Sejarah apa yang akan aku ceritakan pada anak cucuku kelak? Apa yang sudah aku berikan pada saat ini yang kelak akan menjadi sejarah baik untuk dikenang.
Berpijak pada pepatah di atas, kemudian sebuah permenungan aku lakukan. Dan ternyata ada jalan untuk melancarkan jalanku melakukan perenungan. Pada minggu-minggu terakhir ini aku bertemu pada buku dan tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh atas sejarah Indonesia. Buku yang dikemas lebih menarik dan lebih bebas untuk bercerita, tidak ada intervensi dari satu pihak yang kemudian menyatakan dirinyalah yang benar melalui berbagai media. Mulai dari SD sampai SMA sudah terdoktrin melalui kurikulum sejarah bahwa peristiwa 1965 adalah PKI, tidak ada penjelasan yang tepat mengenai peristiwa Sumpah Pemuda  sampai akhirnya ada pihak yang meragukan apakah memang benar Sumpah Pemuda itu ada, dan mengapa Yogyakarta menjadi monarki di tengah-tengah Indonesia yang mengaku sebagai negara Republik.

Selasa, 14 Agustus 2012

Memahami Ut Omnes Unum Sint


Oleh : Fredy Umbu Bewa Guty

Pengantar
Sembari membuka diskusi kita kali ini, saya ingin menyampaikan rasa syukur kepada yang mendalam Sang Kepala Gerakan, karena kita masih layak untuk dipertemukan dalam diskusi hari ini. Adapun topik yang diambil pada diskusi kali ini ialah tentang motto Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Ut Omnes Unum Sint.
Motto GMKI adalah suatu panduan (pegangan atau anutan) GMKI yang berisi nilai-nilai, harapan, cita–cita dan spirit yang menjadi acuan pijak organisasi dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya. Motto GMKI juga merupakan suatu komitmen GMKI yang menunjukkan konsistensi antara perkataan dan perbuatan dalam menjawab panggilan pelayanan.

Senin, 13 Agustus 2012

Menelisik Makna Dari Realitas Kehidupan





 
Negara kita hari ini dibangun atas paradoks-paradoks yang terkadang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Negara dengan sumber daya alam berlimpah namun keadaan masyarakatnya mengenaskan: terpuruk dalam kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, dan masih banyak lagi yang tidak bisa diungkapkan. Tujuan didirikannya negara ini jelas tercantum dalam konstitusi negara kita, UUD NRI 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mari kita urai apa tujuan mulia ini sudah dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini?

Text

GMKI MALANG

GMKI MALANG
Ut Omnes Unum Sint