Selasa, 14 Agustus 2012

Memahami Ut Omnes Unum Sint


Oleh : Fredy Umbu Bewa Guty

Pengantar
Sembari membuka diskusi kita kali ini, saya ingin menyampaikan rasa syukur kepada yang mendalam Sang Kepala Gerakan, karena kita masih layak untuk dipertemukan dalam diskusi hari ini. Adapun topik yang diambil pada diskusi kali ini ialah tentang motto Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Ut Omnes Unum Sint.
Motto GMKI adalah suatu panduan (pegangan atau anutan) GMKI yang berisi nilai-nilai, harapan, cita–cita dan spirit yang menjadi acuan pijak organisasi dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya. Motto GMKI juga merupakan suatu komitmen GMKI yang menunjukkan konsistensi antara perkataan dan perbuatan dalam menjawab panggilan pelayanan.
Motto Ut Omnes Unum Sint dapat dipahami sebagai amsal GMKI, karena mengandung makna atau gagasan tentang persatuan atau persekutuan yang menjadi kebutuhan yang mesti diperjuangkan secara terus-menerus. Agar motto tersebut tidak hanya dipandang sebagai suatu slogan murah (klise) , maka perlulah maknanya perlu dipahami secara benar. Karena banyak kader GMKI, sadar atau tidak, hanya memahami Ut Omnes Unum Sint secara sepenggal. Dan bahkan ada yang menyalahgunakannya untuk kepentingan diri maupun kelompok, padahal penyimpangan terhadap kepercayaan adalah pengkhianatan.
Saya mencoba mengelaborasikan tulisan singkat ini dalam empat bagian yang mungkin mencari arahan diskusi kita. Pertama, adalah landasan historis yang ingin menggambarkan bagaimana hubungan gerakan-gerakan kekristenan  dunia yang merupakan bentuk implementasi nyata dari Ut Omnes Unum Sint. Kedua, Ut Omnes Unum Sint Dalam Yohanes 17, yang ingin menggambarkan bagaimana makna Ut Omnes secara teologis. Bagian ketiga, adalah tentang makna Ut Omnes Unum Sint dalam ber-GMKI, terkhusus bagi kader-kader GMKI dalam menjaga spirit pelayanan. Di bagian akhir merupakan penutup, sekaligus interpretasi Ut Omnes Unum Sint dalam bingkai gerakan Oikumenisme, yang juga merupakan salah satu watak GMKI.

Landasan Historis
Awal berdirinya GMKI adalah dari sebuah Istana Vadstena, di tepi Danau Wettern, Swedia. Waktu itu adalah sebuah pertemuan di bulan Agustus 1895 yang menghadirkan mahasiwa-mahasiwa dari mancanegara, seperti The American Intercollegge, The Young Men’s Christian Association (YMCA), The British College Christian Union, The German Christian Student Allience, The Scandinavian University Christian Movement in Missiion Lands, yang pada akhirnya berhasil membentuk World Student Christian Federation (WSCF), dengan Sekretaris Jendral pertamanya yakni Dr. John R. Mott. Dia adalah seorang lulusan Cornell University yang memulai pelayanan gerejanya selaku dan menjabat sebagai sekretaris lalu ketua YMCA, salah satu organisasi pemuda kristen yang didirikan pada tahun 1844. John R. Mott lalu menjadi seorang pendiri International Missionary Council (Dewan Pekabaran Injil Internasional), yang cukup berperan dalam upaya mendirikan World Council of Churchs (Dewan Gereja-gereja Sedunia).
Cita-cita WSCF terlihat pada mottonya, yakni “Ut Omnes Unum Sint” (yang akhirnya menjadi motto GMKI dan GMK-GMK yang lain), yang berarti “biarlah semua menjadi satu adanya” (Yoh. 17:21). Maksud dari Ut Omnes Unum Sint adalah kesatuan orang percaya, yang mampu mengatasi –dan jika memungkinkan– menghilangkan diskriminasi derajat, warna kulit, dan bahasa, yang merefleksikan kehidupan yang nyata dari “satu tubuh dengan banyak anggota” (1 Kor. 12:30). Dan hal itu tidak hanya dimaknai dalam satu dalam cita-cita, nilai-nilai maupun misi, tetapi juga representasi konstitusional. Tujuan WSCF diarahkan pada mahasiswa-mahasiswa kristen dan warga perguruan tinggi (PT) lainnya dalam rangka mengajak dan memimpin menjadi murid atau pengikut Yesus Kristus, yang berkomitmen terhadap kehidupan dan misi gereja. Karena dasar WSCF adalah keyakinan akan keesaan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang mengerjakan keselamatan manusia.
Sebelum tahun 1910, organisasi ini masih bersifat evangelis dan misionaris. Namun, sejak 1911, federasi mahasiswa protestan ini membuka pintunya bagi golongan-golongan lain, dan dengan gigih memperjuangkan paham oikumene (oikumenisme) di kalangan umat kristen. Dalam Sidang Umum (General Committee Meeting) WSCF tahun 1986 di Mexico, WSCF membagi wilayah pelayanannya atas enam regional, yaitu Regional Eropa dengan 14 negara (14 SCM atau Student Christian Movement)), Regional Amerika Utara 2 SCM, Regional Amerika Latin 10 SCM, Regional Timur Tengah 3 SCM, Regional Afrika 14 SCM, Regional Asia-Pasifik 15 SCM, sehingga total 58 SCM. Anggotanya terdiri dari fraternal members dan corresponding members dari beberapa negara. GMKI menjadi corresponding members (anggota penuh) ketika Sidang Umum WSCF berlangsung di Nasrapur, India, pada tahun 1953. Utusan GMKI waktu itu adalah Nn. Tine A. L. Franz, Leonidas Radja Haba, Pdt. Ihromi, S. A. E. Nababan, Fridolin Ukur, dan Liem Swat Nio. Sebelumnya, delegasi ke Oslo, Norwegia (1947) dan Candy (1948) ada delegasi “bayangan” (dua delegasi), sehingga keduanya ditolak menjadi anggota penuh WSCF.
Sejak tahun 1954, WSCF menerima kebijaksanaan baru yang dinamakan “Life and Mission at Church.GMKI juga pada tahun 1960-an, mulai mendengungkan dan mempertegas implikasi logis pelayanannya sebagai organisasi kader yang mengacu dari paham Christian Presence (“kehadiran kristen di dunia nyata”). Namun sejak tahun 1968, WSCF sudah meninggalkan paham Christian Presence, dan diganti dengan dasar baru yakni Liberation (pembebasan). Bentuknya, tentu saja tergantung dari kondisi nasional masing-masing GMK. Demikian pula dengan GMKI.

Ut Omnes Unum Sint Dalam Yohanes 17
Kalimat Ut Omnes Unum Sint tidak secara eksplisit tampak dalam AD/ART GMKI. Ia hanya tertulis pada bendera, panji dan bagian akhir lagu mars GMKI. Kalimat ini adalah dari bahasa latin yang merupakan doa Tuhan Yesus bagi gereja, yang terdapat dalam Injil Yohanes 17 : 21 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan dengan “ supaya mereka semua menjadi satu “. Doa ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian doa Tuhan Yesus bagi dirinya sendiri, bagi murid-muridNya dan kepada gereja, yang terbentang dalam Yoh. 17 : 1-26, dengan pembagiannya yaitu :
1)      Ayat 1-5, Yesus berdoa untuk diriNya sendiri dengan tema utama untuk kemuliaanNya.
2)      Ayat 6-9, Yesus berdoa untuk murid-muridnya  dengan tema utamanya mereka telah menerima firman Kristus tetapi masih ada di dalam dunia.
3)      Ayat 20-26, Yesus berdoa kepada gereja (orang-orang percaya kepada Kristus oleh karena pemberitaan murid-murid).
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau“. Dari kata-kata ini jelas, bahwa yang dikehendaki oleh yesus adalah kesatuan dari orang-orang yang beriman yang sama seperti kesatuan Kristus dengan Allah Bapa. Jikalau Kristus berkata bahwa Ia dalam Bapa dan Bapa dalam Dia, atau bahwa Ia dan Bapa adalah satu, kata-kata ini tidak dimaksud oleh Yesus untuk menunjuk pada kesatuan zat, tetapi pada kesatuan Firman dan Perbuatan. Kesatuan antara Kristus dan Allah Bapa itu terletak dalam hal, bahwa apa yang difirmankan Yesus adalah yang difirmankan Allah dan yang diperbuat Kristus adalah apa yang diperbuat Allah. Kristus memperkenalkan Allah Bapa dengan perantaraan Firman dan perbuatanNya, atau dengan perantaraan Firman dan karyaNya. Itulah kesatuan Kristus dan Allah Bapa, Keduanya satu didalam Firman dan karyaNya.
Lalu bagaimana kita harus mengartikan “Kesatuan” yang dirindukan Kristus didalam doanya itu? “Dan bukan untuk mereka ini (para murid) saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh karena pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku, dan Aku didalam Engkau, agar mereka juga didalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau yang megutus Aku”. Jelaslah, doa ini diperuntukan bagi semua orang percaya (semua gereja) dengan tujuan supaya sama seperti Kristus dan Bapa adalah satu. Demikian juga semua orang percaya atau semua gereja satu didalam Bapa dan Anak (didalam kita), dan akhirnya dunia percaya bahwa Allah Bapalah yang telah mengutus Kristus.
Ungkapan “supaya mereka juga didalam Kita” harus diartikan demikian, yakni Kesatuan Kristus dan Bapa adalah kesatuan didalam Firman dan karyaNya. Karena itu orang-orang percaya atau gereja-gereja hanya dapat disebut “didalam Bapa dan Anak”, jikalau orang-orang beriman atau gereja-gereja satu didalam Firman dan karya Allah Bapa dan Anak. Anak disebut satu dengan Bapa karena apa yang Ia katakan dan apa yang Ia perbuat adalah sama dengan apa yang diFirmankan dan diperbuat oleh Allah Bapa. Orang-orang beriman atau gereja-gereja akan disebut didalam “Bapa dan Anak” (didalam Kita) jikalau apa yang dikatakan dan diperbuat oleh orang-orang beriman atau gereja-gereja itu sama dengan apa yang diFirmankan dan diperbuat baik oleh Anak maupun oleh Bapa.

Makna Dan Implikasi Doa Yesus Bagi Kader GMKI
Mengapa Yesus berdoa bagi gereja? Lebih spesifik lagi, mengapa Yesus perlu berdoa untuk kesatuan orang percaya? Jawabannya adalah masalah persatuan dan persekutuan adalah barang mahal bagi manusia (tak terkecuali manusia yang percaya kepada Kristus), karena manusia selalu punya potensi untuk tidak bersatu. Persatuan merupakan salah satu hal yang paling berharga. Semua orang tahu betapa pentingnya persatuan itu. Akan tetapi setiap saat persatuan selalu berada dalam bahaya kehancuran. Oleh karena itu perlu ditekankan bahwa persatuan bukanlah suatu hal yang sudah jadi, tetapi suatu proses. Sesuatu yang terus-menerus mesti diperjuangkan. Justru karena Yesus tahu bahwa masalah utama orang percaya adalah potensi untuk tidak bersatu, maka keprihatinan utamaNya adalah berdoa untuk persatuan orang percaya. Doa adalah bentuk kepasrahan. Doa adalah pengakuan manusia akan keterbatasannya dan pengharapan akan kekuasaan Allah.
GMKI adalah gerakan studi, gerakan pemikiran, gerakan moral, gerakan pengkaderan dan gerakan eksperimentasi. Disisi lain GMKI adalah gerakan oikumenis dan evangelisasi. Mengingat kapasitas potensi pada warga GMKI dibandingkan dengan misi dan luasnya medan pelayanan, maka titik berat aksi GMKI adalah berkisar pada lingkup motivasi. Dalam rangka pembinaan motivasi ini maka beberapa hal harus diperhatikan antara lain :
1)      Mengasah kepekaan terhadap kondisi aktual lingkungan semesta.
2)      Ancangan aktivitas yang berorientasi pada masa depan.
3)      Menjaga keberlanjutan setiap aspirasi secara efektif dan efisien.
Hal-hal tersebut harus diperhatikan oleh karena GMKI hadir dan berjuang dalam ruang dan waktu. GMKI ada dalam lingkungan masyarakat yang nyata, hidup dan berkembang, GMKI selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan. Setiap perubahan membawa tantangan tersendiri. Tantangan-tantangan ini semakin lama semakin kompleks dan rumit, untuk menghadapi tantangan tersebut perlu sebuah orientasi, pengembangan wawasan, dan sikap antisipatif–adaptif agar GMKI sebagai suatu gerakan yang tetap relevan dan bermakna. Agar GMKI dapat menghayati Ut Omnes Unum Sint dalam keseluruhan gerakannya, maka berbagai jaringan fungsional antara GMKI, PT dan gerakan – gerakan kristen lainnya harus ditata bersama dalam suatu bingkai maknawi. Kesatuan yang didoakan Yesus bermakna bagi GMKI ketika menampakan gerakannya dalam jaringan relasi fungsional dan dinamis dengan setiap stakeholder, guna menghasilkan kader-kader profesional yang unggul dalam medan layan kini dan mendatang.

Oikumenisme Untuk Dunia
Ut Omnes Unum Sint dalam doa Tuhan Yesus lebih mengutamakan mutu kesatuan yang fungsional dan dinamis dalam rangka kesaksian dan pelayanan kepada dunia ini sehingga dunia percaya kepadaYesus Kristus Tuhan dan Juruslamat manusia serta alam semesta. Ut Omnes Unum Sint sebagai Amsal GMKI mengandung harapan, ajaran dan petuah, dalam rangka mengemban amanat operatif sebagaimana diinformasikan dalam panca kegiatan dan tri panji GMKI. Dalam sejarahnya, GMKI telah dan ikut serta mengambil bagian dan menggumuli masalah-masalah kegerejaan dan kemasyarakatan yang bermuara pada kepeloporan serta keikutsertaan dalam gerakaan keesaan di Indonesia dan dalam sejarah kehidupan negara Indonesia. Hakekat ini harus tetap menjadi ciri GMKI.
Doa Kristus, “supaya mereka semua menjadi satu”. Jadi kesatuan para pengikut Kristus bukanlah untuk mereka sendiri. Kesatuan ini bukan tujuan tetapi alat untuk mencapai tujuan. Tujuannya adalah kepentingan dunia. Sebab itu oikumene tidak boleh berhenti, sampai pada gereja-gereja saja. Oikumene perlu dirasakan faedahnya oleh dunia. Dan urusan dunia yang paling tidak bisa menunggu adalah urusan perut. Karena itu oikumene harus bisa berfaedah, misalnya untuk ekonomi (Yunani; Oikonomia; Oikos yang berarti Rumah dan Nemein yang berarti Mengatur ). Ini dimaksudkan bahwa oikumene harus turut bekerja untuk mengatur suatu tata dunia yang adil dan makmur. Ancaman lain yang dihadapi dunia adalah ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Sebab itu oikumene pun harus bisa berfaedah untuk ekologi (Yunani; Oikoulogia; Oikos yang berarti Rumah, dan Logos yang berarti Percakapan atau Ilmu). Artinya bahwa ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makluk hidup dan lingkungannya atau Ilmu lingkungan hidup. Jelaslah bahwa maksudnya adalah oikumene harus turut bekerja dalam memelihara dunia sebagai tempat yang bisa didiami dan bisa dihidupi. Arti lainnya juga adalah perintah agar tetap hidup dan menghidupi ruang kehidupan (lebenswelt) ini. Dengan demikian, oikumene mempunyai cakrawala yang lebih luas dan lebih jauh dari yang sekedar kita lihat sekarang ini. Oikumene bukan hanya urusan bagaimana gereja-gereja bekerja sama, tetapi bagaimana supaya kerja sama itu menuju kepada usaha menjadikan dunia ini rumah yang teratur dan layak didiami (ekologi).
Akhirnya, berproses di GMKI merupakan nilai yang tidak terbeli, karena didalamnya kita belajar banyak hal, bukan saja untuk menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang mapan, pribadi yang profesional, tetapi juga adalah menjadi pribadi yang berpelayanan. Ut Omnes Unum Sint



[1] Disampaikan dalam Diskusi Bulanan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia – Malang, 16 Oktober 2011
[2] Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia – Salatiga Masa Bhakti 2009-2010 dan 2011-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Text

GMKI MALANG

GMKI MALANG
Ut Omnes Unum Sint