Pengantar
Sembari membuka diskusi kita kali ini, saya ingin
menyampaikan rasa syukur kepada yang mendalam Sang Kepala Gerakan, karena kita
masih layak untuk dipertemukan dalam diskusi hari ini. Adapun topik yang
diambil pada diskusi kali ini ialah tentang motto Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia,
Ut Omnes Unum Sint.
Motto GMKI adalah suatu panduan (pegangan atau anutan) GMKI
yang berisi nilai-nilai, harapan, cita–cita dan spirit yang menjadi acuan pijak
organisasi dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya. Motto GMKI juga merupakan
suatu komitmen GMKI yang menunjukkan konsistensi antara perkataan dan perbuatan
dalam menjawab panggilan pelayanan.
Motto Ut Omnes Unum Sint dapat dipahami sebagai amsal GMKI,
karena mengandung makna atau gagasan tentang persatuan atau persekutuan yang
menjadi kebutuhan yang mesti diperjuangkan secara terus-menerus. Agar motto
tersebut tidak hanya dipandang sebagai suatu slogan murah (klise) , maka
perlulah maknanya perlu dipahami secara benar. Karena banyak kader GMKI, sadar
atau tidak, hanya memahami Ut Omnes Unum Sint secara sepenggal. Dan bahkan ada
yang menyalahgunakannya untuk kepentingan diri maupun kelompok, padahal
penyimpangan terhadap kepercayaan adalah pengkhianatan.
Saya mencoba mengelaborasikan tulisan singkat ini dalam empat
bagian yang mungkin mencari arahan diskusi kita. Pertama, adalah landasan
historis yang ingin menggambarkan bagaimana hubungan gerakan-gerakan
kekristenan dunia yang merupakan bentuk
implementasi nyata dari Ut Omnes Unum Sint. Kedua, Ut Omnes Unum Sint Dalam
Yohanes 17, yang ingin menggambarkan bagaimana makna Ut Omnes secara teologis.
Bagian ketiga, adalah tentang makna Ut Omnes Unum Sint dalam ber-GMKI,
terkhusus bagi kader-kader GMKI dalam menjaga spirit pelayanan. Di bagian akhir
merupakan penutup, sekaligus interpretasi Ut Omnes Unum Sint dalam bingkai
gerakan Oikumenisme, yang juga merupakan salah satu watak GMKI.
Landasan Historis
Awal berdirinya GMKI adalah dari sebuah Istana Vadstena, di
tepi Danau Wettern, Swedia. Waktu itu adalah sebuah pertemuan di bulan Agustus 1895 yang menghadirkan mahasiwa-mahasiwa dari mancanegara,
seperti The American Intercollegge,
The Young Men’s Christian Association (YMCA), The British College Christian Union, The German Christian Student
Allience, The Scandinavian University Christian Movement in Missiion Lands,
yang pada akhirnya berhasil membentuk World Student Christian Federation (WSCF), dengan Sekretaris Jendral pertamanya yakni Dr. John R. Mott. Dia adalah seorang lulusan Cornell University yang memulai
pelayanan gerejanya selaku dan menjabat sebagai sekretaris lalu ketua YMCA, salah satu organisasi pemuda kristen
yang didirikan pada
tahun 1844. John R.
Mott lalu menjadi
seorang pendiri International
Missionary Council (Dewan Pekabaran Injil Internasional),
yang cukup berperan dalam upaya
mendirikan World Council of Churchs
(Dewan Gereja-gereja Sedunia).
Cita-cita WSCF
terlihat pada mottonya, yakni “Ut
Omnes Unum Sint” (yang akhirnya menjadi motto GMKI dan GMK-GMK yang lain), yang
berarti “biarlah semua menjadi satu adanya” (Yoh. 17:21). Maksud dari Ut Omnes Unum Sint adalah
kesatuan orang percaya, yang mampu mengatasi –dan jika memungkinkan–
menghilangkan diskriminasi derajat, warna kulit, dan bahasa, yang merefleksikan
kehidupan yang nyata dari “satu tubuh dengan banyak anggota” (1 Kor. 12:30). Dan hal itu tidak hanya dimaknai dalam satu dalam
cita-cita, nilai-nilai maupun misi, tetapi juga representasi konstitusional. Tujuan WSCF diarahkan pada mahasiswa-mahasiswa kristen dan
warga perguruan tinggi (PT) lainnya dalam rangka mengajak dan memimpin menjadi
murid atau pengikut Yesus Kristus, yang berkomitmen terhadap kehidupan dan misi gereja. Karena dasar
WSCF adalah keyakinan akan keesaan Allah Bapa, Anak,
dan Roh Kudus, yang mengerjakan keselamatan manusia.
Sebelum tahun 1910, organisasi ini masih
bersifat evangelis dan misionaris. Namun, sejak 1911, federasi mahasiswa protestan
ini membuka pintunya bagi golongan-golongan lain, dan dengan gigih memperjuangkan
paham oikumene (oikumenisme) di kalangan umat kristen. Dalam Sidang Umum (General Committee Meeting) WSCF tahun 1986 di Mexico, WSCF membagi wilayah pelayanannya atas enam
regional, yaitu Regional Eropa dengan 14 negara (14 SCM atau Student Christian Movement)),
Regional Amerika Utara 2 SCM, Regional Amerika Latin 10 SCM, Regional Timur
Tengah 3 SCM, Regional Afrika 14 SCM, Regional Asia-Pasifik 15 SCM, sehingga
total 58 SCM. Anggotanya terdiri dari fraternal members dan corresponding members dari beberapa
negara. GMKI menjadi corresponding
members (anggota penuh) ketika Sidang Umum WSCF berlangsung di Nasrapur, India, pada tahun 1953.
Utusan GMKI waktu itu adalah Nn. Tine A. L. Franz, Leonidas Radja Haba, Pdt.
Ihromi, S. A. E. Nababan, Fridolin Ukur, dan Liem Swat Nio. Sebelumnya,
delegasi ke Oslo, Norwegia (1947) dan Candy (1948) ada delegasi “bayangan” (dua
delegasi), sehingga keduanya ditolak menjadi anggota penuh WSCF.
Sejak tahun 1954,
WSCF menerima kebijaksanaan baru yang dinamakan “Life and Mission at Church.” GMKI juga pada tahun 1960-an,
mulai mendengungkan dan mempertegas implikasi logis pelayanannya sebagai organisasi
kader yang mengacu dari paham Christian Presence (“kehadiran kristen di
dunia nyata”). Namun
sejak tahun 1968,
WSCF sudah meninggalkan paham Christian
Presence, dan diganti dengan dasar baru yakni Liberation (pembebasan).
Bentuknya, tentu saja tergantung dari kondisi nasional masing-masing GMK.
Demikian pula dengan GMKI.
Ut Omnes Unum Sint
Dalam Yohanes 17
Kalimat Ut Omnes Unum
Sint tidak secara eksplisit tampak dalam AD/ART GMKI. Ia hanya tertulis pada bendera, panji dan
bagian akhir lagu mars GMKI. Kalimat ini adalah dari bahasa latin yang merupakan doa Tuhan Yesus
bagi gereja, yang terdapat
dalam Injil Yohanes 17 : 21 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
diterjemahkan dengan “ supaya mereka semua menjadi satu “. Doa ini merupakan salah satu bagian dari
rangkaian doa Tuhan Yesus bagi dirinya sendiri, bagi murid-muridNya dan kepada
gereja, yang terbentang dalam Yoh. 17 : 1-26, dengan pembagiannya yaitu :
1)
Ayat 1-5,
Yesus berdoa untuk diriNya sendiri dengan tema utama untuk kemuliaanNya.
2)
Ayat 6-9,
Yesus berdoa untuk murid-muridnya dengan
tema utamanya mereka telah menerima firman Kristus tetapi masih ada di dalam
dunia.
3)
Ayat 20-26,
Yesus berdoa kepada gereja (orang-orang percaya kepada Kristus oleh karena
pemberitaan murid-murid).
“Supaya mereka
semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di
dalam Engkau“. Dari kata-kata ini jelas, bahwa yang dikehendaki oleh yesus
adalah kesatuan dari orang-orang yang beriman yang sama seperti kesatuan
Kristus dengan Allah Bapa. Jikalau Kristus
berkata bahwa Ia dalam Bapa dan Bapa dalam Dia, atau bahwa Ia dan Bapa adalah
satu, kata-kata ini tidak dimaksud oleh Yesus untuk menunjuk pada kesatuan zat,
tetapi pada kesatuan Firman dan Perbuatan. Kesatuan antara Kristus dan Allah
Bapa itu terletak dalam hal, bahwa apa yang difirmankan Yesus adalah yang
difirmankan Allah dan yang diperbuat Kristus adalah apa yang diperbuat Allah.
Kristus memperkenalkan Allah Bapa dengan perantaraan Firman dan perbuatanNya,
atau dengan perantaraan Firman dan karyaNya. Itulah kesatuan Kristus dan Allah
Bapa, Keduanya satu didalam Firman dan karyaNya.
Lalu bagaimana kita
harus mengartikan “Kesatuan” yang dirindukan Kristus didalam doanya itu? “Dan bukan untuk mereka ini (para murid)
saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh
karena pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu sama seperti
Engkau, ya Bapa, didalam Aku, dan Aku didalam Engkau, agar mereka juga didalam
kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau yang megutus Aku”. Jelaslah, doa ini diperuntukan bagi semua orang
percaya (semua gereja) dengan tujuan supaya sama seperti Kristus dan Bapa
adalah satu. Demikian juga semua
orang percaya atau semua gereja satu didalam Bapa dan Anak (didalam kita), dan
akhirnya dunia percaya bahwa Allah Bapalah yang telah mengutus Kristus.
Ungkapan “supaya
mereka juga didalam Kita” harus diartikan demikian, yakni Kesatuan Kristus dan Bapa adalah
kesatuan didalam Firman dan karyaNya. Karena itu orang-orang percaya atau
gereja-gereja hanya dapat disebut “didalam Bapa dan Anak”, jikalau orang-orang
beriman atau gereja-gereja satu didalam Firman dan karya Allah Bapa dan Anak.
Anak disebut satu dengan Bapa karena apa yang Ia katakan dan apa yang Ia
perbuat adalah sama dengan apa yang diFirmankan dan diperbuat oleh Allah Bapa.
Orang-orang beriman atau gereja-gereja akan disebut didalam “Bapa dan Anak”
(didalam Kita) jikalau apa yang dikatakan dan diperbuat oleh orang-orang
beriman atau gereja-gereja itu sama dengan apa yang diFirmankan dan diperbuat
baik oleh Anak maupun oleh Bapa.
Makna Dan Implikasi
Doa Yesus Bagi Kader GMKI
Mengapa Yesus berdoa bagi gereja? Lebih
spesifik lagi, mengapa Yesus perlu berdoa untuk kesatuan orang percaya? Jawabannya adalah masalah persatuan dan
persekutuan adalah barang mahal bagi manusia (tak terkecuali manusia yang
percaya kepada Kristus), karena manusia selalu punya potensi untuk tidak
bersatu. Persatuan merupakan salah satu hal yang
paling berharga. Semua orang tahu betapa pentingnya persatuan itu. Akan tetapi
setiap saat persatuan selalu berada dalam bahaya kehancuran. Oleh karena itu
perlu ditekankan bahwa persatuan bukanlah suatu hal yang sudah jadi, tetapi
suatu proses. Sesuatu yang terus-menerus mesti diperjuangkan. Justru karena Yesus tahu bahwa masalah
utama orang percaya adalah potensi untuk tidak bersatu, maka keprihatinan
utamaNya adalah berdoa untuk persatuan orang percaya. Doa adalah bentuk
kepasrahan. Doa adalah pengakuan manusia akan keterbatasannya dan pengharapan
akan kekuasaan Allah.
GMKI adalah gerakan
studi, gerakan
pemikiran, gerakan moral, gerakan pengkaderan dan gerakan eksperimentasi. Disisi lain GMKI adalah
gerakan oikumenis dan evangelisasi. Mengingat kapasitas potensi pada warga GMKI
dibandingkan dengan misi dan luasnya medan pelayanan, maka titik berat aksi
GMKI adalah berkisar pada lingkup motivasi. Dalam rangka pembinaan motivasi ini
maka beberapa hal harus diperhatikan antara lain :
1)
Mengasah kepekaan
terhadap kondisi aktual lingkungan semesta.
2)
Ancangan aktivitas
yang berorientasi pada masa depan.
3)
Menjaga
keberlanjutan setiap aspirasi secara efektif dan efisien.
Hal-hal tersebut
harus diperhatikan oleh karena GMKI hadir dan berjuang dalam ruang dan waktu.
GMKI ada dalam lingkungan masyarakat yang nyata, hidup dan berkembang, GMKI
selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan. Setiap perubahan membawa
tantangan tersendiri. Tantangan-tantangan ini semakin lama semakin kompleks dan
rumit, untuk menghadapi tantangan
tersebut perlu sebuah
orientasi,
pengembangan wawasan, dan sikap antisipatif–adaptif agar GMKI sebagai suatu gerakan yang tetap relevan dan bermakna. Agar GMKI dapat menghayati Ut Omnes Unum
Sint dalam keseluruhan gerakannya, maka berbagai jaringan fungsional antara
GMKI, PT dan gerakan – gerakan kristen lainnya harus ditata bersama dalam suatu
bingkai maknawi. Kesatuan yang didoakan Yesus bermakna bagi GMKI ketika
menampakan gerakannya dalam jaringan relasi fungsional dan dinamis dengan setiap stakeholder, guna menghasilkan kader-kader profesional yang unggul dalam medan layan kini dan
mendatang.
Oikumenisme Untuk
Dunia
Ut Omnes Unum Sint
dalam doa Tuhan Yesus lebih mengutamakan mutu kesatuan yang fungsional dan dinamis
dalam rangka kesaksian dan pelayanan kepada dunia ini sehingga dunia percaya
kepadaYesus Kristus Tuhan dan Juruslamat manusia serta alam semesta. Ut Omnes Unum Sint
sebagai Amsal GMKI mengandung harapan, ajaran dan petuah, dalam rangka mengemban amanat operatif
sebagaimana diinformasikan dalam
panca kegiatan dan tri panji GMKI. Dalam sejarahnya, GMKI telah dan ikut serta
mengambil bagian dan menggumuli masalah-masalah kegerejaan dan kemasyarakatan
yang bermuara pada kepeloporan serta keikutsertaan dalam gerakaan keesaan di
Indonesia dan dalam sejarah kehidupan negara Indonesia. Hakekat ini harus tetap
menjadi ciri GMKI.
Doa Kristus,
“supaya mereka semua menjadi satu”. Jadi kesatuan para pengikut Kristus
bukanlah untuk mereka sendiri. Kesatuan ini bukan tujuan tetapi alat untuk
mencapai tujuan. Tujuannya adalah kepentingan dunia. Sebab itu oikumene tidak
boleh berhenti, sampai pada gereja-gereja saja. Oikumene perlu dirasakan
faedahnya oleh dunia. Dan urusan dunia yang paling tidak bisa menunggu adalah
urusan perut. Karena itu oikumene harus bisa berfaedah, misalnya untuk ekonomi
(Yunani; Oikonomia; Oikos yang berarti Rumah dan Nemein yang berarti Mengatur ). Ini dimaksudkan bahwa oikumene harus
turut bekerja untuk mengatur suatu tata dunia yang adil dan makmur. Ancaman lain yang dihadapi dunia adalah
ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Sebab itu oikumene pun harus bisa
berfaedah untuk ekologi (Yunani; Oikoulogia; Oikos yang berarti Rumah, dan Logos yang berarti Percakapan atau Ilmu). Artinya bahwa ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara makluk hidup dan lingkungannya atau Ilmu lingkungan hidup. Jelaslah bahwa maksudnya adalah oikumene harus
turut bekerja dalam memelihara dunia
sebagai tempat yang bisa didiami dan bisa dihidupi. Arti lainnya juga adalah perintah agar
tetap hidup dan menghidupi ruang kehidupan (lebenswelt)
ini. Dengan demikian, oikumene mempunyai cakrawala yang lebih luas dan lebih jauh
dari yang sekedar kita lihat sekarang ini. Oikumene bukan hanya urusan
bagaimana gereja-gereja bekerja sama, tetapi bagaimana supaya kerja sama itu
menuju kepada usaha menjadikan dunia ini rumah yang teratur dan layak didiami
(ekologi).
Akhirnya, berproses
di GMKI merupakan nilai yang tidak terbeli, karena didalamnya kita belajar
banyak hal, bukan saja untuk menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang mapan,
pribadi yang profesional, tetapi juga adalah menjadi pribadi yang berpelayanan. Ut Omnes Unum Sint

Tidak ada komentar:
Posting Komentar