oleh: Burhan Manusama
Sungguh mengherankan bahwa
perkembangan kekristenan saat ini menjadi terbalik seratus delapan puluh
derajat. Kristen yang dulunya identik dengan Barat (baca: Eropa) justru
mengalami masa kelesuan di Eropa, sedangkan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin
kekristenan malah berkembang pesat walaupun dengan tekanan di sana sini. Di
Korea Selatan, Kristen menjadi sebuah symbol kemajuan kehidupan. Gereja Yuido
Full Gospel di Korea Selatan diklaim sebagai gereja dengan jemaat terbesar di
dunia. Secara statistical, jumlah umat Kristiani di Korea Selatan yang semula
300.000 pada tahun 1920 naik menjadi 10 hingga 12 juta pada tahun 2004. Di
Republik Rakyat Cina (RRC), walaupun ditekan oleh pemerintahan partai komunis
tetapi diperkirakan ribuan orang melakukan konversi iman ke dalam Kristen
setiap tahunnya. Sementara di Afrika, menurut Christian Post, setiap tahunnya
8,4 juta beralih menjadi Kristen.
Bagaimana dengan Eropa? USA Today
mencatat data yang menunjukkan tren tergelincirnya kekristenan di Eropa.
Irlandia, negara yang selama ini memiliki tingkat kehadiran ke gereja tertinggi
dari umat Kristen se-Eropa Barat, ternyata menunjukkan tren penurunan dari 85%
pada tahun 1970 menjadi 60% pada tahun 2004. Jika negara yang umat Kristennya memiliki tingkat
kehadiran ke gereja paling tinggi se-Eropa Barat ternyata mengalami tren
penurunan, bagaimana dengan negara Eropa lainnya? Prancis, negara multiras di
Eropa Barat, tercatat 60% umat Kristennya tidak lagi hadir ke gereja. USA Today
juga mencatat penurunan kekristenan bukan hanya dari tingkat kehadiran umat di
gereja. Di tahun 2004, tercatat untuk pertama kalinya dalam sejarah gereja di
Irlandia tidak ada satu pun imam Gereja Katolik Roma yang ditahbiskan di tahun
tersebut. Sungguh wajar jika ada yang menyebut masyarakat Eropa saat ini adalah
“Godless Society”. Sedangkan Philip
Jenkins, pakar studi sejarah dan agama di Pennsylvania State University, dalam bukunya The Next Christendom: The Coming of Global Christianity menyebut
menurunnya peran agama (khususnya Kristen) di Eropa sebagai sebuah trend
pemikiran baru yang berkembang di sana.
Bagaimana sebenarnya
tergilincirnya kekristenan di Eropa dan bangkitnya kekristenan di Asia terjadi?
Mengapa dua hal yang merupakan kebalikan dari perkembangan awal kekristenan di
dunia tersebut bisa terjadi? Salah satu factor yang berpengaruh adalah
sekularisasi di Eropa yang tidak lepas dari gejolak social politik di
masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Spanyol, sebuah negara yang pernah disebut
oleh Paus Benediktus XVI dalam lawatannya ke Spanyol sebagai negara yang
meresahkan karena sekularisasi cepat yang sedang terjadi di sana. Pada masa
Jenderal Franco berkuasa di Spanyol, ia dengan tangan besinya menggunakan gereja
untuk menyebarkan paham Katolikisme Nasional yang dapat menyokong hukum tangan
besinya. Setelah kematian Franco pada tahun 1975, Spanyol menjadi makin
sekuler, terutama ketika Jose Luis Rodriguez Zapatero terpilih sebagai Perdana
Menteri pada tahun 2004 dimana ia mengeluarkan beberapa kebijakan sekulernya
yang disebutnya sebagai kebijakan yang membawa Spanyol menjadi kian terbuka,
kian toleran, dan kian sekuler. Beberapa
negara lain di Eropa pun memilih jalan yang sama. Beberapa negara Eropa
melegalkan penggunaan mariyuana, perkawinan sesama jenis, aborsi, dan
lain-lain. Nilai-nilai moral dalam kebijakan publik dipisahkan dengan alasan
pemisahan negara dan agama. Bobot kebijakan publik semata-mata dinilai dari
asas manfaat ataupun dalih nilai kemanusiaan yang terkadang sebenarnya adalah
pedang bermata dua.
Comte, seorang peletak dasar sosiologi, berpandangan bahwa sekularisasi
berbanding lurus dengan modernisasi. Semakin sekuler suatu masyarakat maka
niscaya pula masyarakat tersebut sedang mengalami modernisasi. Begitu
pula sebaliknya, semakin modern suatu masyarakat maka masyarakat tersebut
pastilah makin sekuler. Hal ini disebabkan modernitas dan agama tidak mungkin
dapat disatukan. Hal yang sama diamini pula oleh Durkheim dan Weber. Semakin
modern suatu masyarakat maka masyarakat tersebut akan lebih mempercayakan
kehidupannya pada lembaga sekuler. Semakin modern suatu masyarakat maka
masyarakat tersebut akan semakin bermetamorfosis menjadi masyarakat yang lebih
menekankan bukti empirik agar dapat percaya sesuatu. Manusia modern menjadi
manusia yang selalu ragu-ragu akan sesuatu dan tidak akan percaya terhadap
sesuatu sebelum mengalami atau melihatnya sendiri. Manusia modern menjadi
layaknya Tomas, murid Yesus Kristus, di abad 21. Jika Yesus mengatakan,
“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”, maka masyarakat
modern seolah-olah ingin mengatakan, “Celakalah mereka yang tidak melihat,
namun percaya.”
George Weigel, seorang kolumnis
Katolik Amerika Serikat dan pengarang biografi Paus Yohanes Paulus II, menyebut
masyarakat Eropa saat ini adalah masyarakat Pasca Kristen. Kelas yang berkuasa
dan pemimpin kebudayaan di Eropa saat ini, sebut Weigel, adalah kaum anti agama
dan Kristen fobia. Kelompok ini lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan yang
cepat di Eropa yang kemudian mempengaruhi cara pandang masyarakat Eropa. Ketika
manusia belum mampu menjawab segala teka-teki yang ada di dunia, terutama dalam
hal penaklukan alam, manusia menggantungkan jawabannya dalam teka-teki
metafisis. Sosok Tuhan sebagai prima causa menjadi jawaban pertama dan
terakhir. Namun ketika pengetahuan dan teknologi berkembang, manusia telah
berhasil menaklukkan alam tempatnya hidup. Manusia tidak lagi merasa perlu
menggantungkan diri pada sosok yang tak terlihat yang selama ini disebutnya
Tuhan. Manusia bahkan merasa sudah mampu melakukan karya yang serupa dengan
karya sosok yang disebut Tuhan melalui teknologi cloning. Perkembangan pengetahuan dan teknologi dengan cepat inilah
yang membentuk cara berpikir manusia modern dengan menempatkan manusia sebagai
segalanya, manusia sebagai satu-satunya penyebab yang ada di dunia.
Selain dari perkembangan ilmu
pengetahuan, jika kita mau memandang ke dalam gereja, maka penurunan tersebut
bisa jadi disebabkan kejenuhan dalam bergereja. Kejenuhan dalam bersekutu
tersebut bisa disebabkan lemahnya pembinaan di internal gereja atau lemahnya
gereja dalam menangkap semangat jaman saat ini. Jika ini yang terjadi, maka
sinyal bahaya seharusnya dapat ditangkap oleh negara-negara di luar Eropa yang
kekristenannya sedang berkembang pesat. Masyarakat Kristen di Timur dapat
berbalik arah ketika mereka nantinya mengalami kejenuhan yang sama atau mungkin
justru mengalami kekecewaan terhadap gereja.
Pertanyaannya, apakah kekristenan
di Asia dapat tetap terpelihara seiring dengan semakin modern dan majunya
pengetahuan serta teknologinya? Apakah perubahan-perubahan tersebut juga akan
membentuk pola pikir baru di Asia sebagaimana terjadi Eropa? Ataukah Asia suatu saat nanti akan menjadi
pengulangan dari Eropa pada masa kini?
Inilah yang perlu dipikirkan bagi
umat Tuhan di Asia saat ini. Globalisasi telah mendorong munculnya
kekuatan-kekuatan ekonomi baru di Asia, yaitu India, Cina, Korea Selatan. Efek
domino globalisasi telah menyebar pula ke negara-negara Asia lainnya dimana
dunia menjadi semakin rata dan arus informasi semakin cepat merambat dalam
hitungan sepersekian detik. Kekuatan
arus informasi inilah yang berpotensi membuat dunia pun menjadi semakin rata
dalam cara berpikir. Ke depan diperkirakan tidak akan ada lagi dikotomi
Barat yang modern dan Timur yang tertinggal. Semua memiliki kesempatan yang
sama untuk memiliki sesuatu di pasar bebas, tidak terkecuali ilmu pengetahuan
yang akan mempengaruhi cara berpikir, ideology, dan juga isu-isu. Isu-isu
demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan, kesetaraan gender, dan civil society menjadi
isu yang umum
Seiring dengan semakin masuknya
Asia dalam arus globalisasi tidak pelak pula cara berpikir tipikal masyarakat
modern akan semakin menjadi mainstream
di Asia. Jika demikian maka sekulerisasi di Asia pun hanyalah tinggal menunggu
waktu. Inilah yang menjadi tugas penting umat Tuhan di Asia saat ini. Apakah
umat Tuhan dan gereja di Asia, khususnya Indonesia, akan membiarkan cara
berpikir masyarakat modern beserta sekulerismenya menjadi mainstream beberapa tahun ke depan? Jika ya, maka tergelincirnya
kekristenan di Asia tinggal menunggu waktu.
jadi bisa dikatakanlah terjadi penurunan populasi umat kristiani di negara barat, begitukah maksud anda
BalasHapus