Selasa, 13 November 2012

Terbenam di Eropa, Bangkit di Asia (?)


oleh: Burhan Manusama

Sungguh mengherankan bahwa perkembangan kekristenan saat ini menjadi terbalik seratus delapan puluh derajat. Kristen yang dulunya identik dengan Barat (baca: Eropa) justru mengalami masa kelesuan di Eropa, sedangkan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin kekristenan malah berkembang pesat walaupun dengan tekanan di sana sini. Di Korea Selatan, Kristen menjadi sebuah symbol kemajuan kehidupan. Gereja Yuido Full Gospel di Korea Selatan diklaim sebagai gereja dengan jemaat terbesar di dunia. Secara statistical, jumlah umat Kristiani di Korea Selatan yang semula 300.000 pada tahun 1920 naik menjadi 10 hingga 12 juta pada tahun 2004. Di Republik Rakyat Cina (RRC), walaupun ditekan oleh pemerintahan partai komunis tetapi diperkirakan ribuan orang melakukan konversi iman ke dalam Kristen setiap tahunnya. Sementara di Afrika, menurut Christian Post, setiap tahunnya 8,4 juta beralih menjadi Kristen.

Bagaimana dengan Eropa? USA Today mencatat data yang menunjukkan tren tergelincirnya kekristenan di Eropa. Irlandia, negara yang selama ini memiliki tingkat kehadiran ke gereja tertinggi dari umat Kristen se-Eropa Barat, ternyata menunjukkan tren penurunan dari 85% pada tahun 1970 menjadi 60% pada tahun 2004. Jika  negara yang umat Kristennya memiliki tingkat kehadiran ke gereja paling tinggi se-Eropa Barat ternyata mengalami tren penurunan, bagaimana dengan negara Eropa lainnya? Prancis, negara multiras di Eropa Barat, tercatat 60% umat Kristennya tidak lagi hadir ke gereja. USA Today juga mencatat penurunan kekristenan bukan hanya dari tingkat kehadiran umat di gereja. Di tahun 2004, tercatat untuk pertama kalinya dalam sejarah gereja di Irlandia tidak ada satu pun imam Gereja Katolik Roma yang ditahbiskan di tahun tersebut. Sungguh wajar jika ada yang menyebut masyarakat Eropa saat ini adalah “Godless Society”. Sedangkan Philip Jenkins, pakar studi sejarah dan agama di Pennsylvania State University,  dalam bukunya The Next Christendom: The Coming of Global Christianity menyebut menurunnya peran agama (khususnya Kristen) di Eropa sebagai sebuah trend pemikiran baru yang berkembang di sana.

Bagaimana sebenarnya tergilincirnya kekristenan di Eropa dan bangkitnya kekristenan di Asia terjadi? Mengapa dua hal yang merupakan kebalikan dari perkembangan awal kekristenan di dunia tersebut bisa terjadi? Salah satu factor yang berpengaruh adalah sekularisasi di Eropa yang tidak lepas dari gejolak social politik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Spanyol, sebuah negara yang pernah disebut oleh Paus Benediktus XVI dalam lawatannya ke Spanyol sebagai negara yang meresahkan karena sekularisasi cepat yang sedang terjadi di sana. Pada masa Jenderal Franco berkuasa di Spanyol, ia dengan tangan besinya menggunakan gereja untuk menyebarkan paham Katolikisme Nasional yang dapat menyokong hukum tangan besinya. Setelah kematian Franco pada tahun 1975, Spanyol menjadi makin sekuler, terutama ketika Jose Luis Rodriguez Zapatero terpilih sebagai Perdana Menteri pada tahun 2004 dimana ia mengeluarkan beberapa kebijakan sekulernya yang disebutnya sebagai kebijakan yang membawa Spanyol menjadi kian terbuka, kian toleran, dan kian sekuler. Beberapa negara lain di Eropa pun memilih jalan yang sama. Beberapa negara Eropa melegalkan penggunaan mariyuana, perkawinan sesama jenis, aborsi, dan lain-lain. Nilai-nilai moral dalam kebijakan publik dipisahkan dengan alasan pemisahan negara dan agama. Bobot kebijakan publik semata-mata dinilai dari asas manfaat ataupun dalih nilai kemanusiaan yang terkadang sebenarnya adalah pedang bermata dua.

Comte, seorang peletak dasar sosiologi, berpandangan bahwa sekularisasi berbanding lurus dengan modernisasi. Semakin sekuler suatu masyarakat maka niscaya pula masyarakat tersebut sedang mengalami modernisasi. Begitu pula sebaliknya, semakin modern suatu masyarakat maka masyarakat tersebut pastilah makin sekuler. Hal ini disebabkan modernitas dan agama tidak mungkin dapat disatukan. Hal yang sama diamini pula oleh Durkheim dan Weber. Semakin modern suatu masyarakat maka masyarakat tersebut akan lebih mempercayakan kehidupannya pada lembaga sekuler. Semakin modern suatu masyarakat maka masyarakat tersebut akan semakin bermetamorfosis menjadi masyarakat yang lebih menekankan bukti empirik agar dapat percaya sesuatu. Manusia modern menjadi manusia yang selalu ragu-ragu akan sesuatu dan tidak akan percaya terhadap sesuatu sebelum mengalami atau melihatnya sendiri. Manusia modern menjadi layaknya Tomas, murid Yesus Kristus, di abad 21. Jika Yesus mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”, maka masyarakat modern seolah-olah ingin mengatakan, “Celakalah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

George Weigel, seorang kolumnis Katolik Amerika Serikat dan pengarang biografi Paus Yohanes Paulus II, menyebut masyarakat Eropa saat ini adalah masyarakat Pasca Kristen. Kelas yang berkuasa dan pemimpin kebudayaan di Eropa saat ini, sebut Weigel, adalah kaum anti agama dan Kristen fobia. Kelompok ini lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat di Eropa yang kemudian mempengaruhi cara pandang masyarakat Eropa. Ketika manusia belum mampu menjawab segala teka-teki yang ada di dunia, terutama dalam hal penaklukan alam, manusia menggantungkan jawabannya dalam teka-teki metafisis. Sosok Tuhan sebagai prima causa menjadi jawaban pertama dan terakhir. Namun ketika pengetahuan dan teknologi berkembang, manusia telah berhasil menaklukkan alam tempatnya hidup. Manusia tidak lagi merasa perlu menggantungkan diri pada sosok yang tak terlihat yang selama ini disebutnya Tuhan. Manusia bahkan merasa sudah mampu melakukan karya yang serupa dengan karya sosok yang disebut Tuhan melalui teknologi cloning. Perkembangan pengetahuan dan teknologi dengan cepat inilah yang membentuk cara berpikir manusia modern dengan menempatkan manusia sebagai segalanya, manusia sebagai satu-satunya penyebab yang ada di dunia.

Selain dari perkembangan ilmu pengetahuan, jika kita mau memandang ke dalam gereja, maka penurunan tersebut bisa jadi disebabkan kejenuhan dalam bergereja. Kejenuhan dalam bersekutu tersebut bisa disebabkan lemahnya pembinaan di internal gereja atau lemahnya gereja dalam menangkap semangat jaman saat ini. Jika ini yang terjadi, maka sinyal bahaya seharusnya dapat ditangkap oleh negara-negara di luar Eropa yang kekristenannya sedang berkembang pesat. Masyarakat Kristen di Timur dapat berbalik arah ketika mereka nantinya mengalami kejenuhan yang sama atau mungkin justru mengalami kekecewaan terhadap gereja.

Pertanyaannya, apakah kekristenan di Asia dapat tetap terpelihara seiring dengan semakin modern dan majunya pengetahuan serta teknologinya? Apakah perubahan-perubahan tersebut juga akan membentuk pola pikir baru di Asia sebagaimana terjadi Eropa? Ataukah Asia suatu saat nanti akan menjadi pengulangan dari Eropa pada masa kini?

Inilah yang perlu dipikirkan bagi umat Tuhan di Asia saat ini. Globalisasi telah mendorong munculnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru di Asia, yaitu India, Cina, Korea Selatan. Efek domino globalisasi telah menyebar pula ke negara-negara Asia lainnya dimana dunia menjadi semakin rata dan arus informasi semakin cepat merambat dalam hitungan sepersekian detik. Kekuatan arus informasi inilah yang berpotensi membuat dunia pun menjadi semakin rata dalam cara berpikir. Ke depan diperkirakan tidak akan ada lagi dikotomi Barat yang modern dan Timur yang tertinggal. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki sesuatu di pasar bebas, tidak terkecuali ilmu pengetahuan yang akan mempengaruhi cara berpikir, ideology, dan juga isu-isu. Isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan, kesetaraan gender, dan civil society menjadi isu yang umum

Seiring dengan semakin masuknya Asia dalam arus globalisasi tidak pelak pula cara berpikir tipikal masyarakat modern akan semakin menjadi mainstream di Asia. Jika demikian maka sekulerisasi di Asia pun hanyalah tinggal menunggu waktu. Inilah yang menjadi tugas penting umat Tuhan di Asia saat ini. Apakah umat Tuhan dan gereja di Asia, khususnya Indonesia, akan membiarkan cara berpikir masyarakat modern beserta sekulerismenya menjadi mainstream beberapa tahun ke depan? Jika ya, maka tergelincirnya kekristenan di Asia tinggal menunggu waktu.

1 komentar:

  1. jadi bisa dikatakanlah terjadi penurunan populasi umat kristiani di negara barat, begitukah maksud anda

    BalasHapus

Text

GMKI MALANG

GMKI MALANG
Ut Omnes Unum Sint